Dewasa ini, pernikahan telah menjadi persoalan serius, khususnya bagi anak muda Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan penurunan drastis pada jumlah pernikahan sejak 2018 hingga 2025, yakni dari 2,01 juta turun menjadi sekitar 1,48 juta, atau merosot hampir 27 persen dalam tujuh tahun terakhir. Penurunan ini merupakan indikasi kuat adanya constraint atau kendala ekonomi dalam keputusan untuk menikah.
Di balik kerentanan itu tersimpan ironi yang besar. Indonesia sesungguhnya adalah negara yang kaya energi terbarukan.
Sektor gig memang menyerap tenaga kerja di tengah keterbatasan lapangan kerja. Namun, banyak pekerjanya yang tereksploitasi tanpa jaminan sosial dan perlindungan kerja.
Alih-alih menjadi motor pertumbuhan ekonomi, ledakan usia produktif justru terancam menjadi beban jika mayoritas tidak punya kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.
Gelontoran anggaran jumbo ini tidak menjamin angka pengangguran di Indonesia berkurang.
"Boleh dibilang saat ini kualitas SDM RI masih di bawah standar," kata Founder sekaligus Chairman ADCORP Adhia Arryman.
Peluang bagi anak muda Indonesia untuk menjangkau pasar global melalui ekspor sangat terbuka lebar.
Generasi muda seharusnya punya andil lebih untuk menjadi pelaku sektor pertanian.
Smart Farming atau dalam bahasa Indonesianya disebut Pertanian Cerdas dapat diartikan sebagai penerapan teknologi digital informasi ke dalam ilmu pertanian.
Pemerintah sedang menggodok Satu Data Pangan sebagai data master yang akan digunakan para pemangku kepentingan untuk membuat kebijakan sektor pangan di Indonesia.