Ada satu momen yang tidak bisa saya lupakan dari workshop di Jakarta Utara, tahun lalu.
Seorang perempuan, sekitar empat puluh tahun, duduk diam hampir satu jam penuh. Kemudian ia mengangkat selembar kain yang baru saja ia eco-print, corak daun yang tertinggal di atas kain putih, dan bertanya pelan: "Ini bisa dijual, nggak?"
Pertanyaannya bukanlah apakah ini membantu lingkungan, bukan pula apakah ini mengurangi sampah. Tapi, apakah ini bisa menghasilkan uang?
Menurut saya, pertanyaan dari ibu itu adalah argumen paling jujur tentang mengapa pendekatan kita terhadap ekonomi hijau di Indonesia masih gagal menyentuh mayoritas orang.
Kita Salah Framing dari Awal
Selama bertahun-tahun, gerakan lingkungan di Indonesia membangun pesannya di atas satu prinsip, yaitu pengorbanan. Ubah gaya hidup, kurangi plastik, hingga beli produk ramah lingkungan yang harganya lebih mahal. Maka, jadilah seseorang itu konsumen yang bertanggung jawab.
Bagi kelas menengah Jakarta yang punya cukup ruang untuk memilih, pesan itu mungkin masuk akal. Tapi bagi ibu rumah tangga di Cianjur, pemuda di pesisir Anambas, atau pekerja informal di Bandung, pengorbanan itu bukanlah pilihan, melainkan kemewahan.
Hasilnya bisa diprediksi: kampanye masif dan awareness tinggi, tapi perubahan perilaku nyaris nol.
Bukan karena mereka tidak peduli, hanya saja penawaran yang kita buat tidak masuk akal secara ekonomi bagi mereka.
Mengubah Sampah Menjadi Nilai Jual
Bersama EcoVibes Indonesia, saya menjalankan program di lima wilayah: Jakarta Utara, Jakarta Timur, Bandung, Cianjur, dan Kepulauan Anambas. Kami tidak serta merta datang dengan pesan lingkungan. Kami datang dengan satu pertanyaan berbeda: apa yang bisa dibuat dari sampah yang ada di sekitar kamu, yang punya nilai jual?
Hasilnya konkret. Di Jakarta Timur, 19,72 kilogram limbah tekstil berubah menjadi tas dan pouch yang bisa dijual. Di Bandung, 80 kantong plastik bekas jadi aksesoris. Di Cianjur, pemuda lokal berhasil mendapatkan pendanaan lanjutan USD 2.500 dari program pemerintah AS, bukan karena narasi lingkungannya menarik, tapi karena mereka bisa membuktikan dampak ekonominya.
Ketika framing berubah dari pengorbanan menjadi peluang, percakapan di ruangan pun berubah total.
Menangkap Nilai Ekonomi yang Terbuang
Riset Celios dan 350.org memperkirakan pendekatan ekonomi sirkular berbasis komunitas bisa berkontribusi hingga Rp 745 triliun per tahun terhadap PDB Indonesia. Angka itu bukan potensi abstrak, itu cerminan dari ratusan ribu komunitas yang saat ini membuang nilai ekonomi karena tidak ada infrastruktur untuk menangkapnya.
Indonesia saat ini hanya mendaur ulang sekitar 15 persen dari total sampahnya. Sisanya? Dibuang, dibakar, atau bocor ke sungai dan laut. Tidak tepat menyebutnya sebagai krisis lingkungan, lebih cocok disebut kebocoran ekonomi yang masif. Dalam hal ini, anak muda Indonesia terlibat di garis terdepannya, baik sebagai korban maupun sebagai aktor paling potensial untuk menutupnya.
Apa yang Perlu Berubah
Pertama, insentif ekonomi harus menjadi bahasa utama kebijakan hijau, bukan moralitas. Program-program yang bisa membuktikan bahwa sampah menghasilkan pendapatan sambil mengurangi limbah harus menjadi model, bukan pengecualian.
Kedua, anak muda Indonesia perlu dilihat sebagai pelaku ekonomi hijau, bukan hanya penerima edukasi lingkungan. Ada perbedaan besar antara mengajari seseorang tentang daur ulang dan memberi mereka tools untuk mendapat penghasilan dari daur ulang.
Ketiga, ekosistem dukungan harus dibangun dari bawah. Pendanaan, pelatihan, dan jaringan pasar yang memungkinkan produk upcycling komunitas masuk ke konsumen nyata, bukan hanya pameran sosial.
Perempuan yang mengangkat kain eco-print di Jakarta Utara itu tahu apa yang ia butuhkan. Ia tidak butuh motivasi. Ia butuh pasar.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau membangun pasarnya?
Cavin Dennis Tito Siregar adalah konsultan penelitian dan pendidik iklim berbasis di Jakarta. Ia memimpin EcoVibes Indonesia dan KelasKevin, dua inisiatif komunitas yang telah menjangkau lebih dari 1.200 anak muda dan perempuan di lima wilayah Indonesia. Ia menulis tentang ekonomi komunitas, keberlanjutan, dan kesenjangan yang tidak terlihat di balik angka-angka kebijakan.