Ruang Gagasan (RG) sudah berjalan hampir tiga tahun sejak pertama kali digelar pada tahun 2024. Perjalanan RG telah melalui berbagai bentuk, mulai dari forum turun lapangan, roadshow kampus, hingga penerbitan buku "Suara-Suara Generasi Muda untuk Bangsa".
RG konsisten menghimpun gagasan anak muda dan meneruskannya ke pengambil kebijakan, termasuk lewat penyerahan buku rekomendasi langsung ke Menteri PPN/BAPPENAS, Rachmat Pambudy dan Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia, Dirgayuza Setiawan, dalam acara Youth Economic Summit (YES) 2025.
Memasuki 2026, RG membuka babak baru: ruang opini terbuka untuk umum, kolaborasi yang makin melebar dengan berbagai komunitas, dan target menuju YES sebagai puncaknya di penghujung tahun.
Di balik beberapa forum dan mitra yang terus bertambah, antusiasme anak muda sebenarnya sangat tinggi. Ratusan peserta konsisten hadir di setiap edisi, mengikuti seluruh rangkaian diskusi hingga selesai. Tingginya kehadiran dan keterlibatan ini membuktikan bahwa minat serta kepedulian anak muda terhadap isu publik tidak pernah surut.
Hambatan utama yang dihadapi saat ini adalah terbatasnya saluran di luar sana yang dapat terus dipercaya untuk menampung energi besar tersebut. Saluran politik formal seringkali dipandang terlalu elitis dan berjarak dari keseharian, sementara media sosial lebih banyak menjadi wadah respons sesaat ketimbang ruang diskusi yang berkelanjutan.
Secara faktual, jumlah komunitas kepemudaan justru meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini sejalan dengan skala demografis yang memang besar, jumlah pemuda Indonesia tercatat 64,22 juta jiwa pada 2024 atau sekitar dua puluh persen total penduduk nasional (BPS, 2025). Kelangkaan saluran itu, dengan kata lain, bukan soal jumlah pilihan yang kurang. Salah satu jenisnya berbasis gerakan advokasi, mendorong isu tertentu langsung ke meja pembuat kebijakan. Jenis lain berbentuk forum insidental, biasanya inisiatif pemerintah kota, hadir setahun sekali lalu senyap sampai tahun depan. Ada juga yang murni sosial, nyaman digeluti tapi minim substansi, berjalan tanpa agenda diskusi apa pun.
Masalahnya, belum ada wadah yang bisa menggabungkan ketiga fungsi tersebut secara seimbang. Komunitas advokasi kadang terasa terlalu serius untuk orang yang baru mau mencoba, seolah harus punya pendirian dulu baru boleh bergabung. Forum insidental, dari segi frekuensi, terlalu jarang untuk membangun kebiasaan berpikir kritis jangka panjang. Komunitas sosial murni memang terasa nyaman dan minim tekanan, tapi jarang meninggalkan sesuatu yang substansial selain relasi pertemanan.
Wadah yang menyajikan pembahasan berbobot namun tetap ramah bagi pemula masih sangat jarang. Beberapa inisiatif semacam ini memang sudah ada, biasanya berbentuk kelas kebijakan atau diskusi lintas sektor yang menyasar mahasiswa dan profesional muda. Namun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk menampung besarnya kebutuhan anak muda, sehingga menumpuknya permintaan ini tidak pernah benar-benar tertampung.
Komunitas kepemudaan yang ingin dipercaya publik harus bisa menyediakan dua hal sekaligus: materi diskusi yang berbasis data dan cara penyampaian yang mudah dipahami pemula. Dua hal ini sering dianggap sulit disatukan, padahal saling melengkapi.
Syarat pertama, infrastruktur pengetahuan yang jelas. Diskusi yang cuma bertukar opini tanpa data gampang jadi obrolan "warung kopi" yang berulang, orang datang sekali lalu tidak kembali karena merasa tidak dapat apa-apa yang baru. Kemitraan dengan lembaga riset, kampus, atau siapa pun yang punya akses ke data dan metodologi yang kredibel, di sinilah bahan bakar yang membuat orang punya alasan untuk terus aktif.
Syarat kedua adalah pintu masuk yang tidak membuat orang merasa harus "cukup pintar" sebelum berani ikut. Keterlibatan memang seharusnya datang lebih dulu, baru pemahaman mendalam tumbuh lewat proses: mulai dari fenomena yang dekat dengan keseharian, harga bahan pokok naik, macet makin parah, baru masuk ke kerangka kebijakan yang melatarinya. Kalau urutannya dibalik, data dan istilah teknis dilempar duluan, yang lahir bukan ketertarikan, melainkan ketakutan.
Dua syarat ini sering luput ketika komunitas kepemudaan hanya fokus membesarkan jumlah anggota atau frekuensi acara. Padahal yang membuat orang bertahan ikut lebih dari sekali bukan seberapa sering ada kegiatan, melainkan seberapa konsisten mereka merasa mendapatkan sesuatu yang berharga tiap kali datang, entah itu wawasan baru, data terbaru, atau cara pandang yang belum pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Paradoks anak muda yang peduli tapi tidak percaya saluran itu, bisa disebabkan oleh terbatasnya pilihan wadah yang tepat, padahal tingkat kepedulian mereka sebenarnya sangat tinggi. Minatnya sudah ada, terbukti dari kehadiran mereka di forum-forum yang tetap ramai. Perlu ruang yang menggabungkan kedekatan dan keseriusan dalam waktu bersamaan, tempat orang tidak perlu memilih antara terasa dekat atau terasa berbobot. Kalau lebih banyak komunitas berani mendesain ruang seperti itu, kepercayaan yang selama ini bocor punya kesempatan dibangun ulang, satu forum dalam satu waktu.
Ditulis oleh Raditya Akhdan Nirwasita - Intern at CORE Indonesia (Mahasiswa Universitas Indonesia)